Selasa, 29 Desember 2009

jangan anggap anak reggae sebelah mata,,,


Suatu hal yang membuat saya merasa heran tentang hal yang masyarakat awam  pikir tentang reggae dan juga tentang kepribadian seorang musisi reggae,,setiap mereka memandang bahkan mengdengar bahwa seorang musisi reggae pasti berkepribadian ganjil dan negatif,,seperti minum minuman keras,ngeganja,atau selalu dikaitkan dengan hal yang berbau kriminal,sampai dikaitkan dengan orang yang gila atau gak waras,,apakah separah itu?? dan apakah emang benar demikian??
  • Rambut gimbal dan musik reggae sering dikait-kaitkan dengan banyak hal negatif, termasuk disebut-sebut dekat dengan penyalahgunaan narkoba dan ganja. Namun hal tersebut merupakan fenomena yang wajib diubah, setidaknya demikianlah pendapat Ras Muha
  • jeli maipura (bukan musisi tapi salah satu penggemar reggae)"saya berpikir pendapat itu adalah wajar, karena masyarakat kita yang cenderung selalu melihat jelek hal2
  • mad, yang kukuh menapaki karirnya di jalur reggae.
  • yang berbeda dari kebanyakan.orang2 yang berambut gimbal selalu di identikan dengan narkoba, mereka tidak salah, karena yang mereka lihat (di tv melalui film barat) adalah memang itu...dan parahnya lagi, hal itu di amini oleh beberapa oknum (kalo boleh saya sebut begitu) rekan2 pecinta reggae, dengan stiker2 reggae dengan gambar daun ganja, bahkan mengartikan rasta sebagai daun ganja... hal itu kan makin menambah kesalah pahaman di masyarakat umum..Untuk mengubah itu ya, mau tidak mau kita harus benar2 bersih hingga bisa menunjukan kepada orang lain bahwa reggae gk selamanya ganja, bahkan reggae bukan ganja, bukan miras, bukan narkoba..!!kampanye untuk hal ini harus sering di utarakan, terutama buat para musisi reggae yang sudah bisa tampil di tv dan dilihat oleh massa yang lebih banyak.."
  • reggae pencinta damai,dengan expresijiwa dan musik ini sebenarnya sudah terbukti bahwa semua pandangan masyarakat itu bener bener salah,semua boleh berpendapat lain asal jangan sampai memanipulasi karya n hak orang lain,kami para pecinta reggae bukan ingin di gujat tapi ingin menciptakan kedamaian dihati dan jiwa,rambut gimbal bukan juga berarti mirip orang gila,gambar ganja bukan berarti kami selalu pemakai ganja,sejarah mengatakan semua itu hanyalah simbol jika emang ada musisi atau pecinta reggae yang demikian itu hanyalah keinginanan pribadi masing-masing bukan berarti semuanya berperilaku sama. (para pecinta reggae)

sesuatu hal adalah reggae selalu bersikap sederhana dalam kehidupannya,bahkan selalu ingin menciptakan rasa damai bagi semua,dan mereka selalu menjalani apa adanya,bebas lepas tanpa beban,yang terpenting tidak terjerat 378,,demikian lagu steven yang tenar itu,jangan lah samakan dengar orang luar negri,jangan samakan dengan para rastafaria jamaica,ini indonesia bukan jamaica,jadi dengan sedikit info ini semuga bisa menjadikan mereka masyarakat awam lebih mengerti.




 


Minggu, 27 Desember 2009

REGGAE DAN RASTA


Reggae dan rasta

Di Indonesia, reggae hampir selalu diidentikkan dengan rasta. Padahal,
reggae
dan rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda. "Reggae adalah nama
genre musik, sedangkan rasta atau singkatan dari rastafari adalah
sebuah pilihan jalan hidup, way of life," ujar Ras Muhamad (23),
pemusik reggae yang sudah 12 tahun menekuni dunia reggae di New York
dan penganut ajaran filosofi rasta. Repotnya, di balik ingar-bingar dan
kegembiraan
yang dibawa reggae, ada stigma yang melekat pada para penggemar musik
tersebut. Dan stigma tersebut turut melekat pada filosofi rasta itu
sendiri. "Di sini, penggemar musik reggae, atau sering salah kaprah
disebut rastafarian, diidentikkan dengan pengisap ganja dan bergaya
hidup
semaunya, tanpa tujuan," ungkap Ras yang bernama asli Muhamad Egar ini.
Padahal, filosofi rasta sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup
bersih, tertib, dan memiliki prinsip serta tujuan hidup yang jelas. Penganut
rasta
yang sesungguhnya menolak minum alkohol, makan daging, dan bahkan
mengisap rokok. "Para anggota The Wailers (band asli Bob Marley) tidak
ada yang merokok. Merokok menyalahi ajaran rastafari," papar Ras.

Ras
mengungkapkan, tidak semua penggemar reggae adalah penganut rasta, dan
sebaliknya, tidak semua penganut rasta harus menyenangi lagu reggae.
Reggae diidentikkan dengan rasta karena Bob Marley—pembawa genre musik
tersebut ke duniaadalah seorang penganut rasta.

Ras
menambahkan, salah satu bukti bahwa komunitas reggae di Indonesia
sebagian besar belum memahami ajaran rastafari adalah tidak adanya
pemahaman terhadap hal-hal mendasar dari filosofi itu. "Misalnya waktu
saya tanya mereka tentang Marcus Garvey dan Haile Selassie, mereka
tidak tahu. Padahal itu adalah dua tokoh utama dalam ajaran rastafari,"
ungkap pemuda yang menggelung rambut panjangnya dalam sorban ini.
Pemusik
Tony Q Rastafara pun mengakui, meski ia menggunakan embel-embel nama
Rastafara, tetapi dia bukan seorang penganut rasta. Tony mencoba
memahami ajaran rastafari yang menurut dia bisa diperas menjadi satu
hakikat filosofi, yakni cinta damai. "Yang saya ikuti cuma
cinta damai itu," tutur Tony yang tidak mau menyentuh ganja itu.
Namun, meski tidak memahami dan menjalankan seluruh filosofi rastafari,
para
penggemar dan pelaku reggae di Indonesia mengaku mendapatkan sesuatu di
balik musik yang mereka cintai itu. Biasanya, dimulai dari menyenangi
musik reggae (dan lirik lagu-lagunya), para penggemar itu kemudian
mulai tertarik mempelajari filosofi dan ajaran yang ada di baliknya.

Seperti diakui Hendry Moses Billy, gitaris grup Papa Rasta asal Yogya, yang
mengaku
musik reggae semakin menguatkan kebenciannya terhadap ketidakadilan dan
penyalahgunaan wewenang. Setiap ditilang polisi, ia lebih memilih
berdebat daripada "berdamai". "Masalahnya bukan pada uang, tetapi
praktik seperti itu tidak adil," tandas Moses yang mengaku sering
dibuntuti orang tak dikenal saat beli rokok tengah malam karena dikira
mau beli ganja.
Sementara Steven mengaku dirinya menjadi lebih bijak
dalam memandang hidup sejak menggeluti musik reggae. Musik reggae,
terutama yang dipopulerkan Bob Marley, menurut Steven, mengajarkan
perdamaian,
keadilan, dan antikekerasan. "Jadi kami memberontak
terhadap ketidakadilan, tetapi tidak antikemapanan. Kalau reggae
tumbuh, maka di Indonesia tidak akan ada perang. Indonesia akan
tersenyum dengan
reggae," ujar Steven mantap. Sila dan Joni dari Bali menegaskan,
seorang
rasta sejati tidak harus identik dengan penampilan ala Bob Marley.
"Rasta sejati itu ada di dalam hati," tandas Sila sambil mengepalkan
tangan kanan untuk menepuk dadanya.

Mari kita diskusikan artikel diatas tersebut....